Surat Cinta Untuk Suzuki, Dealermu Makin Berguguran, Waktunya untuk Ganti Haluan…..

Munivmotoblog – Suzuki, ketika ingat brand jepang yang satu ini yang ada difikiran kita adalah produk yang sangat durable dan juga harga yang murah. Namun kedua faktor ini tidak cukup untuk membuat Suzuki bangkit di tahun 2018 ini. Gelontoran produk baru di segment sport dan metic entry level tidak cukup membuat rantai distribusi semakin membaik. Justru sebaliknya diler mereka semakin berkurang karena tidak ketemu antara operational cost vs income. Kemudian pertanyaan yang simpple, salah siapa?

Untuk mengetahui ini maka pola pendekatan bisnis to value harus di kedepankan dibanding yang lainya. Artinya survive dulu dari kompetitor baru bangkit. Ya pendekatan risk management dalam hal bisnis to value ini menjadi yang pertama. Ada istilah bisnis first kemudian baru berbicara safety/survive. Berbicara bisnis ada namanya rantai operational management. Rantai ini terdiri dari vendor, produksi, produk dan juga distribusi. Oke kita kesampingkan idealisme Suzuki yang menurut saya saat ini salah besar. Idialisme yang membuat dia terpuruk.

Idealisme apa itu? Iya mereka mengejar segment yang pola pasar saat ini secara nasional hype nya sudah sangat turun bahkan mendekati angka 10%. Ibarat memancing ikan dikolam yang ikanya sudah tinggal sedikit. Kolam apa itu, itu adalah kolam segment sport 150 cc. Segment dimana pada era sekarang sudah semakin ditinggalkan oleh mayoritas besar pasar. Kolam yang sudah keruh dan sudah dipanen oleh Yamaha dengan Vixion dan juga Honda dengan CB150R disaat ikanya masih banyak. Sekarang kolam ini hanya menyisakan ikan dalam jumlah kecil namun dengan pemancing yang banyak. Artinya apa? Ya gak akan dapat banyak !!!! Sedangkan disisi lain mereka harus berjuang menghidupi rantai distribusi diler (end customer) yang berlaku hitungan (income – operational cost). Apabila incomenya lebih sedikit daripada operational cost, maka ujungnya diler akan tutup. Maka kita akan Kembali lagi ke bisnis first.

Kemudian apakah team marketing diler gak bisa jualan? Gak bisa bujuk konsumen buat ambil motor Suzuki? Jawabanya tidak juga seperti ini. Jadi saya berikan gambaran bagaimana susahnya menjual barang yang hypenya sudah turun, demmand sudah turun. Pasar ini adalah sebuah kesatuan purchasing power yang digabungkan dengan demand global. Purchasing power disini adalah kemampuan seorang dalam membeli motor dalam periode tahun tertentu. Demand global adalah minat pasar domestik secara global terhadap sebuah produk (ini tidak bisa didekte dan tidak bisa berubah secara drastis). Diler akan kesulitan menjual motor dengan pendiktean/memaksakan produk yang demand secara global sudah turun untuk dapat grow up. Wong ibarat ikanya cuman 10, yang mancing ada 3 orang? Masing masing hanya kejatah 3 ikan. Itu kalau produk Suzuki GSX dihitung 30% memakan pasar sport tanah air. Apabila indeksnya hanya 10% maka hanya kebagian 1. Nah apa mungkin sebuah diler bisa bertahan hidup hanya dengan makan ikan 1 – 3 selama sebulan? Jawabanya tidak !!!! Menggenjot pasar sport 150 cc dengan membakar uang promosi dan jor joran merupakan kesalahan fatal pertama prinsipal Suzuki. Ibarat membuat umpan dengan cost yang tinggi namun untuk kolam ikan yang hanya 10 ekor. Jualan 10 ekor ikan ini bahkan tidak cukup untuk membuat diler bertahan, apalagi profit !!!!

Metic entry level Nex II, hanya sebagai sum e dsna emergency

Pasar ini cukup tinggi serapanya, ibarat kolam ikanya masih banyak. Mereka siapa? Yang ingin beli motor untuk anaknya yang mau sekolah, hadiah acara jalan santai, acara dorprose bank dan lomba 17 agustusan. Membeli motor dikelas ini bukan mereka yang dulunya punya honda beat atau mio kemudian beli nex II. Proses step up pasti dialami konsumen kelas ini. Artinya ia ingin lebih. Wal hasil sekarang kelas metic entry level jualanya stagnan, malah kelas yang diatasnya range 16 – 20 juta laris manis. Artinya potensi market disini ada prediksi turun dikemudian hari. Kemudian Masalahnya? Suzuki belum memiliki produk yang proper untuk step up dikelas metic entry level. Mereka hanya punya adress dimana ya dibanding kompetitor masih kalah secara fitur maupun design keseluruhan. Ceruk dikelas step up yang kedepan marketnya akan sangat besar ini tidak juga difikirkan Suzuki pada saat ini. Bahkan mereka malah merilis suzuki bandit yang keluar dari pakem bandit seutuhnya, DNA bandit enggak ada sama sekali. Lagi lagi segment sport kecil kekeuh ia kerjakan.

Ibarat produsen smartphone Suzuki iti seperti Sony.. kekeh dengan idealismenya yang ujungnya theory bussines first tidak jalan. Bussines first adalah membuat produk yang disukai dan diminati konsumen saat ini maupun proyeksi 3 tahun kedepan dengan mengedepankan aspek profit sehingga banyak orang yang pengen join menjadi salah satu rantai distribusi Suzuki. Apabila produk yang dibikin sudah out of date, investor/pengusaha mana yang mau ngelirik buat join jualan Motor Suzuki atau membangun jaringan 3S nya. Nahh !!!

Solusi untuk Suzuki….

Saya bukan bermaksud menggurui dalam hal ini. Saya menulis ini demi rasa cinta dan sayang saya terhadap pabrikan jepang satu ini. Saya punya pengalaman manis dengan shogun 125, dengan smash 110 CW. Kemudian ayah ada kenangan manis juga dengan Suzuki Bravo. Saya menulis ini dengan pendekatan business to sustainable company. Kebetulan saya bekerja dibidang industry end customer yang banyak sekali kompetitornya. Dan saya mendaoat amanah untik memganh Business Plan Manager. Jadi semoga solusi ini bermanfaat kedepanya. Setelah alinea pertama, kedua dan ketiga artikel ini membahas aspek kekurangan dan kesalahan strategi dari Suzuki. Maka sebisa mungkin solusi juga akan saya tulis dalam alinea terakhir ini. Saya bukan typical blogger yang “suka memuji” padahal produknya salah pasar. Lebih suka mengenai analisa teknis yang berkaitan dengan sustainable business. Sehingga harapan saya pabrikan Suzuki setidaknya dapat mendengar suara saya ini.

Bigger is nothing, but value of article is everything (besar itu tidak ada apa – apanya, tapi nilai dari sebuah artikel itu yang sesuatu)

Solusi pertama, Kerahkan sumber daya sepenuhnya untuk menggarap produk step up kelas metic 125 cc standard yang proper. Minimal fitur nya dapat meniru yamaha Freego dan pola binomian nomenklatur namanya mengikuti vario series. Artinya.. Menggunahkan nama produk suzuki yang sudah booming dimasanya untuk dikemas dalam produk yang totality baru. Namun hindari menggunahkan nama produk suzuki yang sudah di cap boros seperti Spin. Nama Hayate atau Suzuki HayTech (yanh ada difikiran saya saat ini) bisa menjadi opsi untuk skutik standard 125 cc. Skutik dek rata yang proper untik semua segment.

Solusi kedua, segera rilis skutik bongsor brugman 150 cc/200cc versi CKD. Produk ini nantinya akan menjadi sumber uang kedua setelah segmen skutik dek rata 125 cc. Kelas maxi skutik ini sekarang lagi booming dan berada pada top performance marketing. Hype nya diprediksi akan sampai pada 3 – 5 tahun kedepan. Kenapa? Ya karena peralihan dari konsumen sport 150 cc ke maxi skutik 150 – 200 cc. Kemudian konsumen step up dari akutik standard dek rata 125 – 150 cc. Setting harga di 25 – 27 juta akan sangat menggiurkan. Opsi hightech dari kelas ini bisa juga dengan Maxi skutik Brugman versi hybrid dimana untuk kelas ini belum ada yang memikirkan menggunahkan dua motor sekaligus satunya bensin satunya listrik.

Solusi ketiga, mengembangkan motor skutik retro dengan kubikasi mesin 150/200 cc common engine dengan brugman. Kelas retro skupi sekarang ada da di top performance market. Namun konsumen pada saat ini belum menemukan produk yang proper untik step up yang ada dipasar selain honda Scopy. Misal ada yang buat skutik retro dengan kubikasi 150 cc jadi pandangan retro tidak hanya untuk dalam kota. Buat touring juga ayok. Sehingga konsumen mendapatkan opsi yang lebih berfariatif di pasar yang besar ini. Bagus bagus mau bikin yang kelas retro tapi dengan basis mesin Adress atau Nex II. Segingga niche market di segment skutik retro dibabat habis oleh Suzuki dan menciptakan ekosistim yang baru di skutik kelas 110 – 150 cc.

Ketika honda kuat dikelas metic standard low entry dan midle clas, yamaha kuat disektor maxi skutik, maka celah Suzuki adalah disegment skutic urban retro (yang belum banyak digarap oleh mereka berdua). Namun pesan saya hanya satu, tampilan keseluruhan/design motor Suzuki kedepanya wajib keren dan tidak menimbulkan debatable design. Yaaa design memang selera, tali jelek itu mutlak.

Kelas sport? Jangan disentuh dulu agar diler bisa dapat income untuk memenuhi operational costnya.

Advertisements

29 thoughts on “Surat Cinta Untuk Suzuki, Dealermu Makin Berguguran, Waktunya untuk Ganti Haluan…..

  1. Jangan lupakan pasar trail, dsini pasar yg sangat berkembang syg donk klo ngga digarap… Dgn varian suzuki RM 150 atau 200 mesin wajib powerfull mungkin dgn mesin gsx r dengan penyesuaian bore x stroke nya dan rasio nya…. Upsidedown, alloy swingarm dan deltabox frame ala suzuki RM 125 AF dan desain body kekinian tg cakep ala Husqvarna atau RM 2019
    Nah itu smua blum ada di kompetitior…
    Yakin deh Suzuki pasti laris…

    Like

  2. sijuki bukan kaleng-kaleng tapi lama-lama strategi marketing produknya yg jadi kaleng-kaleng. suzuki sudah kehilangan hype nya dimata konsumen baru IMHO
    barisan gagal pertamax pisan lek wkwkwkkw

    Like

    1. Woww barisan gagal pertamax setelah master page one si gozir…. Betul, ya karena dia berpartner dengan influinser yang hanya mengedapankan money oriented tapi tidak memberi masukan ke Suzuki. Soo jadinya gene bandit adalah produknya…. mau di bilang jas jes jos.. dari mana..

      Like

      1. Yoi lek, cuma dengerin yg pengen didengerin. Kadang nih kritik sama saran emang kayak obat ditelen pait tapi demi kebaikan

        Like

  3. Beginih nih bikin artikel manfaat buat pengendara juga industri. Salut om.

    Kalau boleh nambahin jangan lupa bagi suzuki, jangan suka merubah nama yang sudah populer, seperti Shogun, Skywave ataupun Smash, karena masyarakat yang kepalang paham nama motor suzuki jadi bingung. Berhubung motoGP suzuki juga lagi lumayan, harusnya bisa diperbaiki lagi marketing teamnya dengan lebih percaya dengan manajemen lokal.

    Like

  4. Dulu sy jg nungguin burgman 175 apa 180 cc gitu lah (padahal sy bukan fbs) dengan harapan cepet keluar, design burgman 200 wannabe n harga dibawah merek mapan. Ealah katanya info terakhir masih mikir2 atau perlu 2-3 tahun lagi. Udah males skrg nunggunya.

    Like

  5. kl boleh komen flash back.. sijuki mulai melakukan kesalahan pada tunder dan smash.. sebelum itu kualitas produknya bagus. tapi tunder dan smash mengedepankan harga murah.. padahal kalo bertahan dengan shogun itu sudah oke. untuk sport juga terlalu tunderisme. selain satria 2 tak ya. lama lama shogun axelo yg sebenernya lebih pantas disebut smash axelo karena mutunya.

    Like

    1. Mashookk mas tho… Memang differensiasi produk dan target pasar suzuki ini yang masih perlu dibenahi. Kadang produk yang sudah bagus direvisi bukan tambah bagus tapi menjadi seeuatu yang aneh. Turunan GSX jadi bandit dengan garapan produk asal asalan. Sama kayak shogun turun ke axelo

      Like

  6. Bikin matic 50cc an mungkin gak mas utk suzuki, biar bisa ngejar volume penjualan gitu dgn harga yang murah, pasarnya misalnya utk anak sekolah yg ortunya khawatir beliin motor yg terlalu kencang.

    Like

    1. Ini juga masuk list juga. Namun mengelin metik 50 cc tidak mudah karena segmen pasarnya hanya untuk under 20 tahun. Selesai itu dia step up ke kelas diatasnya karena kebutuhan yang semakin kompleks. Kompleks berarti membutuhka motor dengan akomodasi dan telnologi yang lebih.

      Like

      1. Itu cuman contoh pasarnya mas, bukan pembatasan. Bisa juga sbg motor utk keperluan mobilitas dekat sehari2 misal ke pasar atau ke warung, tdk terbatas usia.

        Like

  7. “Suzuki Inovasi Tiada Henti” sekarang ” Suzuki Inovasi yang Terhenti”
    ….Sering ngundang blogger minta saran, ga da yang dipake…Masih mentingin “Idealisme”..dibanding survive…
    Katanya orang2 : Metic suzuki 150/180 cc itu keluar kalau fir’aun udah bangun…(sindiran)

    Mikir juga konsumen : Masih ada Loyalitas brand ?, kalau pabrikan g pernah dengerin kata konsumen….
    Moga2 ga pada tutup bengkel servisnya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s